Sejarah

Syiah Kuala adalah salah satu kecamatan di Kota Banda Aceh yang mempunyai 10 gampong/desa yaitu :

  1. Gampong Ie Masen Kaye Adang
  2. Gampong Pineung
  3. Gampong Lamgugob
  4. Gampong Kopelma Darussalam
  5. Gampong Rukoh
  6. Gampong Jeulingke
  7. Gampong Tibang
  8. Gampong Deah Raya
  9. Gampong Alue Naga
  10. Gampong Peurada

Adapun nama kecamatan ini erat kaitannya dengan nama seorang ulama besar Aceh yang dikenal dengan nama Syekh Abdurrauf Singkil (Singkil, Aceh 1024 H/1615 M – Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M) adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara padaumumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkena ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinyaSyekh Ulama di Kuala).

Pada masa mudanya teungku Syiah Kuala dikenal dengan nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-JawiTsumalFansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajarpada ulama-ulama di Fansurdan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, syaikhuntukTarekatSyattariyah Ahmad al-Qusyasyi adalah alah satu gurunya. Nama Abdurrauf muncul dalam silsilah tarekat dan ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan Syattariyah di Indonesia. Namanya juga dihubungkan dengan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an bahasa Melayu atas karya Al-Baidhawiberjudul Anwar at-TanzilWaAsrar at-Ta’wil, yang pertama kali diterbitkan di Istanbul tahun 1884.

Ia diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan Tarekat Syattariah yang diperolehnya. Murid yang berguru kepadanya banyak dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatera Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dariTasikmalaya, Jawa Barat).

Abdurrauf Singkil meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desaDeyah Raya KecamatanSyiah Kuala, sekitar 15 Km dariKota Banda Aceh.