
Jakarta – Sosok Wali Kota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, S.E., dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tegas namun hangat. Ia mendorong partisipasi warga sebagai kekuatan utama pembangunan, membuka ruang kolaborasi, serta memberi perhatian khusus pada pemberdayaan masyarakat dan generasi muda. Di bawah arahannya, berbagai inisiatif sosial dan komunitas tumbuh sebagai bagian dari ekosistem kota yang inklusif dan berdaya.
Di usia yang ke-821, Kota Banda Aceh kini semakin agresif berkembang dan maju, sebagai kota yang islami, damai, sejahtera, dan modern. Gaya kepemimpinan Illiza sebagai Wali Kota, patut diacungi jempol, karena ia selalu mendorong penguatan partisipasi warga, pemberdayaan masyarakat dan generasi muda, serta menciptakan ruang kolaborasi. Dengan gaya memimpin yang tegas namun penuh empati, Illiza mampu menggerakkan elemen masyarakat, memperkuat tata kelola, dan menghadirkan program yang memberi kesempatan bagi warga untuk berkembang dan mandiri. Illiza hadir sebagai pemimpin yang tidak menjaga jarak. Ia memilih untuk dekat—mendengar, menyapa, dan bergerak bersama warga. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab untuk menghadirkan rasa aman dan harapan.
Satu tekad Illiza yang sangat kuat dan memacu semangatnya dalam memimpin Kota Banda Aceh, yaitu memajukan dan mengembalikan kejayaan Aceh seperti yang pernah disandang kota ini di masa lalu.
“Bagi saya usia Kota Banda Aceh yang ke-821 itu bukan sekadar hitungan angka tetapi juga bagaimana bukti dari ketangguhan peradaban yang diwariskan terdahulu. Kita tahu bagaimana kejayaan Islam di masa Sultan Iskandar Muda, peradaban di Aceh sangat maju. Tentunya sebagai pemimpin, meskipun saya seorang perempuan, benar-benar ingin bisa memberikan dampak dalam menjalankan amanah baik dalam menjaga peradaban dan kejayaan masa lalu, juga sekaligus memastikan masa depan yang penuh harapan. Ini semua adalah ujian dari Allah tapi saya luruskan dengan niat untuk ibadah,” tutur Illiza.
Membangun kota dalam kolaborasi diyakini Illiza sebagai strategi dan sistem besar Kota Banda Aceh yang pernah dilanda gempa bumi dan tsunami dahsyat. “Banyak pihak yang membangun kota kami baik secara nasional, lokal, hingga internasional. Menurut saya sudah saatnya kita berkolaborasi apalagi dalam kondisi ekonomi seperti saat ini, tentu tidak bisa dibangun hanya dari balai kota saja tetapi juga multi-pihak di dalamnya, baik pemerintah kerja sama pemerintah, kerja sama swasta, masyarakat, hingga kalangan anak muda Gen Z, Gen Alpa, semuanya harus terlibat untuk mewujudkan Banda Aceh yang sejahtera. Karena ini adalah kota kita, semua orang harus bisa memiliki kota ini, semua orang harus berpartisipasi, dan ruang itu kita buka seluas-luasnya dengan kolaborasi bersama,” tegasnya.
Menghadapi dan menyikapi kemajuan teknologi yang sangat pesat dan pengaruh globalisasi yang sangat masif saat ini, pertanyaan yang seringkali muncul bagi Illiza adalah bagaimana ia menyatukan nilai agama, terutama dengan penerapan Syariat Islam yang kuat, budaya lokal, dan kemajuan modern dalam satu visi pembangunan. “Modernisasi ini kan bukan berarti meninggalkan jati diri kita, dan kalau kita berpegang pada agama itu juga tidak berarti menolak kemajuan. Maka kami membangun kota ini dengan mengedepankan keislaman, juga tetap menjaga budaya dan kearifan lokal, karena ini kan jati diri kita yang tidak boleh kita tinggalkan,” ujarnya.
Cara Illiza menanamkan kesadaran dan mengajak masyarakat dalam satu pemahaman seperti itu, adalah dengan berkomunikasi secara intens agar masyarakat lebih memahami arah pembangunan lima tahun kepemimpinannya. “Sejalan dengan komunikasi, kita melibatkan multi-pihak agar warga merasa memiliki kota ini. Warga mencintai dulu pemimpinnya kemudian baru kita mengajak berpartisipasi. Memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk berkarya dan mengekspresikan potensi diri, maka dengan sendirinya warga akan bisa berpatisipasi aktif mengikuti apa yang ingin kita bangun, misalnya Smart City Kota Cerdas, Smart City From Smart People, Smart People Smart City. Jadi smart yang kami maksud adalah orang yang cerdas itu kata Rasulullah, orang yang mempersiapkan kematian, nah ini semua kan relate dengan apa yang kita bangun: masa lalu dan juga masa yang akan datang, seperti kata Rasulullah: ‘didik anakmu sesuai dengan zamannya’,” jelas Illiza.
Bahkan, lebih jauh Illiza menegaskan, anak-anak Aceh termasuk perempuan, tidak menolak budaya yang datang dari luar. “Menolak tidak, justru anak-anak Aceh itu sangat modern tapi diikat dengan aturan syariat berlandaskan nilai-nilai atau value yang kita bangun yang sudah ditanamkan lewat ajaran agama. Mereka tidak ada yang tertinggal, justru anak-anak Banda Aceh ini sangat update dengan fashion, dengan bidang apapun, seperti bidang teknologi start up banyak lahir dari anak-anak Kota Banda Aceh, anak-anak kreatif yang jumlahnya cukup banyak. Melaksanakan Syariat Islam bukan berarti kita tidak bisa berkembang, tidak bisa maju, tidak bisa modern, justru dengan penerapan Syariat Islam forum itu terbuka lebar,” tandasnya.
Cerdas Mengoptimalkan Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi yang pesat saat ini dimanfaatkan Illiza untuk mendukung pembangunan di Kota Banda Aceh. Ia meluncurkan dua program unggulan, yaitu SALEUM dan Usaha Teman. Program SALEUM (Sarana Aduan Layanan Elektronik) adalah layanan pengaduan publik terpadu sebagai wadah satu pintu bagi warga untuk melaporkan berbagai persoalan perkotaan—seperti masalah sampah, air bersih, hingga pelanggaran syariat Islam—langsung kepada walikota dan instansi terkait.
“Dari sisi pelayanan elektronik kita tidak mau dikatakan pemerintah yang anti kritik, justru SALEUM ini untuk menampung aspirasi masyarakat. Warga bisa melaporkan atau menyampaikan kondisi riil di lapangan apa yang menjadi persoalan yang dihadapi. Jadi aplikasi SALEUM ini kami hadirkan agar aspirasi, keluhan warga bisa segera ditindak-lanjuti oleh para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang semuanya terkoneksi. Itu memang harapan kami, bisa menjadi alim ulama pelayanan masyarakat yang terbaik, tentu harus memberikan pelayanan tepat untuk masyarakat walaupun persoalan-persoalan yang tersampaikan tidak harus hari ini disampaikan besok selesai, karena tergantung persoalan yang mereka sampaikan, sehingga keberadaan SALEUM ini betul-betul bisa menjawab persoalan-persoalan yang ada di masyarakat. Kita kan harus peduli, harus aware apa yang menjadi keluhan masyarakat,” jelas Illiza.
Demikian juga dengan Program Usaha Teman yang baru ada di Kota Banda Aceh, dibangun untuk digitalisasi para pelaku usaha, terutama UMKM, agar lebih luas jangkauan pasarnya. Strategi yang dilakukan dengan pendampingan secara langsung, memberikan edukasi ke sekolah-sekolah, pelatihan-pelatihan bagi UMKM. Juga ada Banda Aceh Academy, untuk memberikan pelatihan sampai para pelaku usaha bisa bergabung di platform Usaha Teman.
Bukan khusus hanya untuk UMKM, Usaha Teman menurut Illiza juga mengangkat dan memberdayakan para pengusaha mandiri, seperti tukang urut, tukang masak, dan lain-lain, agar bisa masuk ke platform Usaha Teman. “Kalau misalnya ada yang pintar masak Ayam Tangkap mau dipanggil ke daerah lain seperti Jakarta kan bisa, jadi tidak hanya terjangkau di Kota Banda Aceh tapi bisa ke seluruh Indonesia.”
Memberdayakan Ekonomi dan Peran Perempuan
Illiza aktif memberdayakan ekonomi dan peran perempuan dengan mengedepankan kolaborasi multi-pihak, termasuk lembaga-lembaga sosial hingga pengelola zakat. Sebagai pemimpin perempuan, tantangannya memang tidak mudah.
“Prinsip saya sederhana, keputusan yang kita ambil belum tentu populer. Kalau kita mau memutuskan sesuatu yang benar terkadang banyak orang yang tidak suka. Tapi keputusan yang bertanggung jawab itu harus diambil demi masa depan. Kadang kita terlalu terpengaruh dengan popularitas sehingga takut mengungkapkan kebenaran, tapi saya akan tetap lakukan meskipun ada risiko seperti itu. Sebagai pemimpin yang kini kali keempat saya memimpin Kota Banda Aceh, mulai sebagai wakil wali kota, hal-hal seperti ini menjadi tantangan bagi saya. Sementara di sisi lain, kami dituntut untuk melakukan percepatan kesejahteraan masyarakat.”
Kolaborasi multi-pihak tetap menjadi strategi utama Illiza, untuk membantu masyarakat, baik dengan bantuan dana CSR, kerja sama dengan lembaga-lembaga lainnya, juga dengan Baitul Mal, yaitu lembaga keuangan atau institusi Islam yang bertugas mengelola seluruh aset, pendapatan, dan pengeluaran publik, mengatur kekayaan umat, termasuk zakat, infak, sedekah, dan pajak, khususnya di Provinsi Aceh yang menjalankan syariat Islam. Bantuan dari Baitul Mal bisa dalam bentuk modal usaha, yang memang fokus pada mereka yang memenuhi persyaratan.
Selain itu, untuk memberdayakan ekonomi dan peran perempuan, Pemerintah Kota juga sering melakukan kegiatan-kegiatan festival dan pameran. “Kami yakin ketika perempuan diberdayakan maka satu keluarga itu akan berubah dan masyarakat pun akan maju. Jadi kolaborasi ini kita bangun agar benar-benar bisa memberikan dampak terhadap perempuan itu sendiri. Saya juga dari dulu sudah mengadakan MUSRENA (Musyawarah Rencana Aksi Perempuan) di Kota Banda Aceh. Musyarawah muslimah ini juga merupakan suara kebutuhan dari para perempuan itu sendiri, dari masyarakat itu sendiri yang sebetulnya kita menindak-lanjuti, sehingga bukan hanya pola hubungan top down tapi juga buttom up,” tandas Illiza.
Srikandi Pemimpin yang Tegas Tapi Lembut
Menjadi pemimpin perempuan di Aceh, bagi Illiza adalah suatu kesyukuran dan kebanggaan, karena sejarah Aceh sebenarnya sudah selesai dengan persoalan boleh tidaknya pemimpin perempuan. Sekaligus merupakan tantangan di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan agama. Illiza harus menunjukkan dan membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan itu benar-benar bisa memberikan dampak positif.
“Perempuan harus menunjukkan adanya keberkahan, adanya kekuatan, bukan kelemahan. Ketika banyak orang menyepelekan perempuan, kuncinya ada pada kelembagaan secara tegas dalam aturan dan hukum, tapi lembut merangkul, melakukan pendekatan, karena perempuan itu kan memang kelebihannya di hatinya. Ketika hatinya hidup ada Allah di sana pastinya kita akan memberikan dampak lebih dibanding laki-laki. Perempuan Aceh harus diberi kesempatan karena memiliki kemampuan yang mumpuni untuk memimpin,” tegas Illiza.
Penghargaan Woman Empower Woman Award 2025 yang diterima Illiza didedikasikannya untuk para perempuan Aceh, agar perempuan Banda Aceh terus berkarya. “Penghargaan itu sebetulnya bukan hanya milik saya, tapi saya mendapatkan itu juga kerena dukungan perempuan-perempuan lain. Kita memang harus terus berjuang dan berkarya, memiliki semangat Kartini dan para tokoh pahlawan perempuan. Penghargaan itu harus menjadi trigger untuk berbuat lebih baik lagi, berani berbuat untuk kemaslahatan masyarakat. Kepada generasi muda, saya berpesan jangan pernah ragu bermimpi besar, perempuan diciptakan Allah sebagai makhluk yang istimewa yang memiliki kekuatan, jangan pernah ragu dan harus optimis, harus berprasangka baik kepada Allah, harus bisa saling menguatkan antar-sesama perempuan.”
Keluarga Support System Utama
“Alhamdulillah support pertama itu pasti orang tua, dan suami adalah supporter terhebat saya. Perempuan yang hebat pasti ada laki-laki hebat di belakangnya. Anak-anak saya juga selalu memberikan kekuatan untuk saya. Jadi, kita harus bisa membangun harmonisasi secara internal keluarga kita. Keluarga, bahkan sahabat dan kerabat, adalah support system yang selalu ada di saat kita susah atau senang. Ridho orang tua adalah ridho Allah, ini juga doa saya melanjutkan perjuangan orang tua yang awalnya itu sederhana, melanjutkan silaturahmi untuk sahabat-sahabat mereka, tapi kemudian Allah membuka jalan dan akhirnya saya istiqomah di dalam perpolitikan. Tapi niat saya adalah ibadah terbaik untuk membentuk pahala ibu saya,” lirih Illiza.
Memang diakui Illiza, menjadi pemimpin itu sangat berat tanggungjawabnya kepada Allah. Apalagi tantangan di era modern ini semakin kompleks dan banyak. “Di era keterbukaan informasi ini, banyak hal-hal miris kita saksikan, terutama di kalangan anak muda. Kalau hanya membangun kota secara fisik, mungkin itu mudah, tetapi yang paling berat ketika kita bicara tentang moralitas, tentang akhlak, yang saya rasakan merupakan ujian yang sangatlah berat. Anak-anak muda terpapar HIV AIDS tinggi, narkoba tinggi, pergaulan bebas luar biasa di Aceh. Sementara saya disumpah untuk menjalankan syariat, beda dengan pemimpin-pemimpin daerah lain, tapi saya pikir ini adalah jalan Allah. Ini adalah tantangan kami, syariat kami, dan saya yakin ujian itu adalah peringatan dari Allah karena Allah sayang. Jadi saya harus hardworking, saya harus sehat,” tutur Illiza yang mengisi waktu luangnya dengan memanjakan hobi desain baju, memasak, dan membaca.
Harapan ke Depan
Berkat hasil semua kerja sama berbagai pihak, Illiza bermimpi kira-kira 6-10 tahun ke depan, sekaligus misi dan visi besar kolaborasi yang sudah dilakukan, Banda Aceh bisa menjadi kota yang modern, smart, dan maju secara teknologi tapi tetap teduh, aman, damai karena kuatnya iman. Banda Aceh menjadi rujukan untuk peradaban Islam di Indonesia.